![]() |
| ilustrasi: sumber google image |
Sore itu, angin gurun berembus pelan menerpa wajah-wajah para pejuang. Debu-debu terus membubung tinggi ke angkasa. Terlihat jelas raut kelelahan dalam berjalan. Betapa tidak, jihad fi sabilillah bukanlah perkara remeh.
Untuk kesekian kalinya, tentara-tentara Allah subhanahu wa ta’ala berjuang di bawah kilatan pedang. Benar, jihad dan teror adalah dua sisi yang berbeda. Harapan mereka ialah ingin mengembuskan napas terakhirnya di medan laga. Kelak, dapat terhindar dari api neraka dan dimasukkan ke jannah-Nya.
Latar Belakang Pertempuran
Agama Majusi berideologi adanya dua tuhan. Tuhan cahaya yang menciptakan kebaikan dan tuhan kegelapan yang menciptakan kejahatan. Semua materi di alam ini bermuara kepada dua tuhan tersebut. Namun, mereka lebih memprioritaskan tuhan cahaya daripada tuhan kegelapan. Oleh sebab itu, bangsa Persia menyembah api yang menyala sebagai wujud tuhan cahaya yang mereka yakini itu.
Pasca wafatnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bersikukuh melanjutkan invasi militer ke wilayah Irak yang termasuk teritorial imperium Persia. Perekrutan mujahidin pun marak dihelat di berbagai sektor. Abu Ubaid ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu akhirnya dilantik sebagai panglima perang dalam misi besar yang sarat marabahaya ini.
Pasukan Islam terus melaju setelah mendapat sokongan personel dari beberapa pangkalan militer. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, sejumlah wilayah Irak berhasil dikurangi secara signifikan dan didudukkan dalam kekuasaan Islam.
Sederet kekalahan tersebut ternyata membuat berang kerajaan Persia. Musuh mempersiapkan bala tentara berskala besar yang direncanakan untuk mengikis gempuran para mujahidin. Kedua belah pihak bertemu di medan laga. Peperangan ini berlangsung pada tahun 13 H.
Persiapan Pasukan Islam
Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menginstruksikan kepada Abu Ubaid bin Mas’ud ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu agar kerap menggelar majelis musyawarah militer dan bersinergi dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sang khalifah juga mengikutsertakan Salith bin Qais radhiyallahu ‘anhu dalam ekspedisi tempur ini. Beliau merupakan ahli taktik dan administratif tempur yang cukup diperhitungkan. Kaum muslimin terpanggil untuk menjadi ujung tombak pada arena pertempuran. Menyandang senjata, berjuang membela agama Allah subhanahu wa ta’ala.
Pertempuran di Atas Jembatan Eufrat
Ribuan pasukan Majusi tiba di bawah komando panglima senior bernama Dzul Hajib. Dikenal sebagai sosok yang licik, dengan ciri khas mencukur kedua alisnya. Musuh membawa panji kerajaan sebagai lambang kemenangan yang diberi nama Dirafsy (Panji Agung). Terbuat dari kulit harimau yang memiliki panjang 12 hasta dan lebar delapan hasta.
Pasukan Islam kala itu berkekuatan 10.000 prajurit. Tidak ada kata lain, kecuali siap menyongsong fluktuasi medan dengan risiko tinggi. Posisi kedua pasukan tempur itu dipisahkan oleh jembatan panjang di sungai Eufrat, Irak. Perseteruan mempertaruhkan nyawa kembali mencuat di atas jembatan. Rongrongan negara adidaya tersebut siap mencabik-cabik barisan para mujahidin. Puncaknya, musuh menyerbu dengan serangan brutal yang diperkuat kavaleri sejumlah gajah.
Setiap gajah membawa puluhan serdadu beserta peti persenjataan di atasnya dengan gemerincing lonceng, untuk menakut-nakuti kuda pasukan Islam. Strategi ini benar-benar memporak-porandakan struktur armada Islam. Setiap kali para mujahidin hendak menerobos barikade, kuda-kuda mereka tidak mampu bertahan menyibak formasi Persia Majusi itu.
Di lain pihak, pasukan kavaleri musuh dari atas gajah bertubi-tubi memberondongkan amunisi senjatanya, melepaskan anak panah hingga banyak dari tentara Islam yang meregang nyawa. Walau demikian, pasukan Islam berhasil membunuh 6.000 orang dari mereka. Abu Ubaid rahimahullahu lantas mengubah strategi tempur dengan sistem sentralisasi untuk menghabisi seluruh gajah sebagai target utama.
Tak ayal, para prajurit Islam membunuh gajah-gajah yang ada. Belakangan, musuh juga menempatkan seekor gajah putih yang paling besar milik raja mereka di garis terdepan. Abu Ubaid rahimahullahu pun mengayunkan pedangnya untuk menebas belalai gajah tersebut. Tak pelak, gajah tersebut mengamuk beringas dan akhirnya menginjak beliau hingga mengembuskan napas terakhirnya.

0 comments:
Post a Comment