masyrifberbagi,,SEORANG
suami tanpa sengaja mendengar percakapan sang istri yang tengah menasihati
anaknya. Anak itu merasa rendah diri karena ayahnya hanya seorang tukang batu
(kuli).
“Nak, apakah
kamu tahu, bagaimana gedung-gedung bertingkat dan apartemen mewah itu bisa
berdiri? Bagaimana jalan tol dan jembatan layang bisa dibangun? Bagaimana
pelabuhan dan bandara bisa digunakan? Semua membutuhkan orang-orang seperti
ayahmu untuk mengerjakannya. Memang ada para pengusaha dan investor untuk
membiayainya. Ada arsitek dan desain interior yang merancangnya, juga ada para
manager dan mandor yang mengawasi jalannya pekerjaan itu. Tapi tanpa ada
orang-orang seperti ayahmu yang menggali tanah, mengaduk pasir dan semen,
menyusun batu kali untuk jadi pondasi kemudian menjadikannya sebuah tembok
kokoh anyg tidak mudah ambruk, semua impian mereka tidak akan terwujud,” ungkap
si ibu kepada anaknya.
“Di setiap
rumah sakit, bank, gedung perkantoran, terdapat sidik jari dan butiran keringat
ayahmu yang melekat di dinding bangunan itu,” lanjut sang ibu dengan penuh
kasih sayang.
Si anak
kemudian menghampiri dan memeluk ibunya sambil berkata, “Terima kasih ibu,
engkau telah membuat aku percaya diri dan bangga mempunyai ayah seorang tukang
batu.”
Si ayah yang
mendengar percakapan mereka kemudian masuk dan berkata kepada mereka, “Terima
kasih kalian telah membuat hidup ayah sangat berarti.” []
sumber:
http://www.islampos.com/ayahku-tukang-bangunan-150048/
|
0 comments:
Post a Comment